Suatu sore, sehari sebelum kembali pulang ke Jakarta, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Danau Singkarak, danau singkarak dan nagari Sumani, berdekatan. Saat kesana 20 tahun lalu, masih banyak sekali bangau di sawah-sawah yang kita lewati sepanjang jalan menuju danau Singkarak dan ternyata sampai sekarang, bangau-bangaunya pun masih banyak, menakjubkan banget.
Sumani adalah nagari di kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Nagari ini dihuni oleh suku-suku Koto, Melayu, Guci, Mandaliko, Sumagek, dan Balai Mansiang. Di utara nagari Sumani terdapat Danau Singkarak.
Di sebelah Utara, Sumani berbatasan dengan Saniangbaka. Timur dengan Singkarak. Barat dengan Koto Sani. Selatan dengan Kota Solok.
![]() |
| Kerupuk Leak |
![]() |
| Kerupuk Leak kesukaan nenek sedari kecil sampai sekarang |
![]() |
| Tempat bermain air/berenang di tepian danau SIngkarak |
Jadi ngapain kita di danau Singkarak, awalnya mau main -main air, tapi penuh sekali anak-anak kecil dan abege yang mandi ditepian danau, mau naik kapalnya, kok enggak ada yang naik, jadinya kita cuma duduk - duduk saja di tepian danaunya, sambil menikmati kerupuk leak, kerupuk yang diguyur sambal cair, rasanya gak kayak sambal lado yang terasa pedas dan panas, yang ini rasanya ringan saja, gak pedas, tapi bikin ketagihan.
Danau Singkarak nampaknya semakin luas saja, tepi danau yang bersebelahan dengan jalan raya terlihat dalam sekali, kalau jaman dulu itu bisa parkir dan main-main di tepian danau dan ikan - ikan bilih banyak banget disekitaran kita jelas terlihat karena danaunya bersih, sekarang sudah tidak bisa lagi main di tepian situ lagi, anak-anak juga nampaknya tidak berminat main air karena Bang Ucok sopir kita sebelumnya pernah bilang kalau danau ini dalam sekali, mobil travel yang masuk kedanau ini, tidak pernah ditemukan, hmm cerita yang sama yang ibu dengar dua puluh tahun yang lalu. Jadi teringat cerita alm Papanya Ibu yang saat mudanya sebelum berangkat merantau ke jakarta pernah berenang di danau Singkarak dan kakinya tersangkut, beliau perenang yang handal, belajar berenangnya di kali dan di danau, hampir saja tidak dapat menyelamatkan dirinya saat itu.
Danau Singkarak yang unik, kedalamannya mencapai 268 meter dan semakin luas bisa dibaca di http://www.kidnesia.com.
Saat - saat sekarang, ikan bilih sudah tidak sebanyak dulu lagi, bahkan sekarang terancam punah, pantas ya mahal sekali makan sepiring kecil ikan bilih di rumah makan Padang sekarang, jaman berlimpah ruah, oleh-oleh buat orang Jakarta dari kampung pastinya ikan bilih dan rinuak itu,yang belum tahu rinuak dan ikan bilih bisa lihat disini .
![]() |
| gambar dari bungarahayuf.wordpress.com |
![]() |
| gambar dari https://firstychrysant.wordpress.com |
Menikmati matahari terbenam di danau Singkarak menyenangkan,dan senang sekali bisa kembali lagi kesini .










