Terinspirasi banget dengan postingan nya meta yang judulnya Proud (and Relieved) Owner, diniatin rumah yang kita tempatin bisa ikutan bebas Kredit Renovasi dibulan April tahun lalu itu, dan tanpa disangka 1 tahun 5 bulan setelahnya impian kami terkabulkan, ya bulan September lalu kami sudah terbebas dari 2 kredit sekaligus, kredit renovasi dan juga KPR.
Alhamdulillah, lega sekali dan rasanya luar biasa bahagia, benar-benar tidak menyangka, jadi ingat tempelan tulisan di mobil depan kita saat berangkat kerja,kalau gak salah kutipannya ” God will make a way where there seems to be no way”,benar-benar melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Jadi ingat perjalanan kami sampai bisa menempati rumah yang sekarang ini.
Menikah tahun 2002, karena masih LDRan Jakarta Surabaya, masih menetap di Pondok Indah, maksudnya Pondok Mertua Indah di pinggiran Jakarta Timur, Pondok Kopi tepatnya.
Keinginan untuk memiliki rumah sendiri sebagai pasangan muda saat itu sangat kuat, 2 tahun kemudian di tahun 2004, kita berkumpul kembali di Jakarta, mulailah masa intensif saat Sabtu Minggu untuk mencari-cari rumah, sampai akhirnya bersama-sama teman kami menyambangi suatu komplek perumahan baru di cimanggis, langsung terpikat dengan promosinya dan langsung kepikiran sampai gak bisa tidur untuk bisa memiliki rumah disana.
Akhirnya diputuskan untuk memantapkan hati membeli rumah yang paling kecil tipe 36 di Blok B kebetulan mendapatkan di Hook sehingga luas tanahnya yang seharusnya 90 m2 menjadi 104 m2, Komplek B nama perumahannya, tadinya mau ambil cicilan, karena ngeri memikirkan bunganya, akhirnya pilihan kita yang bayar tunai secara bertahap, dan setelah rumahnya jadi dan kemudian lunas, malahan keinginan untuk menempati rumah sendiri langsung menguap begitu saja, hi hi bener-bener deh, jaman itu kan masih muda, jadinya kayaknya pertimbangannya juga belum matang.
Alasannya ya ada beberapa, yang pertama karena gak bisa ngebayangin jauhnya dari kantor dan mesti naik angkutan umum apa dari kantor kesini, belum lagi mikirnya kalaupun ada angkot sampai depan komplek , masuk kedalamnya naik apa, karena dari depan komplek ke rumah aja masih jauh banget mana jalannya berbukit-bukit pulaks.
Alasan lainnya rumah kita ada di hook, letaknya paling atas, jadi kalau dari rumah ke jalan, berarti menurun, dibawah ada kali dan tidak ada tembok tinggi penghalangnya, kebayang kalau anak main sendiri, meluncur kebawah, bisa masuk kekali cikeas.
Jadi kesimpulannya adalah biaya hidup terutama yang menyangkut biaya transportasi akan jadi mahal banget banget. Jadilah, keriaan punya rumah sendiri, kita lampiaskan dengan datang berkunjung kesana untuk bersih-bersih, jadi setiap kesana, ya agendanya bersih-bersih , terus beli makanan siang di tempat makan depan kompleknya, yang mana rasa makanan sundanya biasa banget dan harganya mahal, mungkin dipikir yang punya tempat makan, semua yang keluar dari komplek itu banyak uangnya, karena kesannya kompleknya wah sekali, gak tau dia selain yang besar-besar rumah dan tanahnya, yang bagian belakangnya banyak rumah - rumah kecil dan imut setipe rumah kita.
Kalau saat main kesana sekalian bersih-bersih, pastinya kita foto-foto dunk, dan kamera digitalnya rusak berbarengan dengan ultah si mas dzaky yang ke-4, jadi foto-foto ultahnya saat pesan kue ultah bentuk mobil sama teman dan kenangan kita akan rumah mungil kita yang belum sempat dicetak hilang begitu saja.
Rumahnya sendiri seperti ini nih…bahagianya luar biasanya udah punya rumah biar kata kecil mungil gitu.
gambar diambil dari rumah.mitola.co.id




