Showing posts with label Kontes. Show all posts
Showing posts with label Kontes. Show all posts

Friday, November 07, 2014

Prasangka terhadap Ibu

Tidak semua anak memiliki hubungan yang dekat dengan ibu, ini kisah seorang anak yang sedari kecil lebih merasa jadi anak ayah, dan tidak merasa dekat dengan Ibu.  Diusia sekitar 8 tahunan, dengan khayalan masa anak-anak,  dia merasa bahwa Ibunya  yang sesungguhnya disembunyikan didalam Pohon Asem, tempat anak itu, dan adik-adiknya serta teman – teman mereka  biasa bermain di Kampung Penggilingan, sebuah kampung di pinggiran Jakarta era tahun 1980-an,   dan mungkin khayalan tingkat tingginya bermula karena kecewa dan merasa tidak mendapat perlakuan yang adil sebagai seorang anak,   memiliki 4 anak perempuan dengan jarak usia yang berdekatan nampaknya membuat ibunya itu  sangat sibuk dan mengabaikan anak yang paling besar, padahal anak yang paling besar sebenarnya usianya juga masih kecil.

Ketidakcocokan terus berlanjut sampai anak itu menjadi remaja, semakin rumit saja rasanya kisahnya dengan ibunda tercintanya,rasanya malu sekali disaat sudah remaja sang Ibu masih saja menambahkan adik untuknya, 3 adik perempuan dan sekarang ditambah satu adik laki-laki  .  Rasa tidak disukai dan tidak diperlakukan secara adil semakin meningkat kadarnya, rasanya sampai kapanpun dia merasa sang ibu tidak akan pernah mengerti dirinya.  Komunikasi selalu berjalan tidak baik dan selalu timbul salah pengertian setelahnya, sang anak menjadi pemberontak dan merasa sang Ibu amat sangat tidak  mengerti dirinya.


Monday, February 25, 2013

Ayah..anak dan Ponakan

Foto -foto  ayah ini sengaja dipajang disini dalam rangka ikut serta dalam kontesnya Ibu Fauzan, Mama Olive, Papanya Cintya-Agas. Tema kontes fotonya   ini adalah : Potret laki-laki dan dunia anak.  Setelah pilih - pilih Ibu pilih foto ay dengan  anak-anak, gaya ay bisa lepas gitu deh...., gak cuma sama anak sendiri, sama ponakan pun ay senang ..Hmm, gak ada yang lebih keren dari foto laki-laki yang sayang anak apalagi yang telaten dan piawai dalam mengurus anak.....akhirnya ibu pilih foto-foto ini :
Cerita sedikit tentang foto diatas ya :

2 foto diatas adalah foto ay dengan raffa dan Kayra, sepupunya 3 boys, waktu liburan keluarga besar ke Anyer, dan diambil menggunakan kamera  Canon DIGITAL IXUS 95 IS.

2  Foto dibawahnya juga menggunakan kamera yang sama, foto ay dengan si anak tengah Fai ketika acara sekolah Fai ke Kampung Maen Cibubur (yang kiri ) dan foto bawah kanan adalah Foto Ay dengan Fai waktu kita jalan-jalan ke Singapura.
Kalau yang ini adalah foto jadul, foto mas dzaky sama ayahnya, range usia dari 4 bulanan sd 3 tahunan, diambil dengan kamera saku olympus FE 240
Kalau yang ini, foto Raffa yang lagi ngiler dalam gendongan ayah waktu nungguin 2 abangnya potong rambut di Barbershop, diambil dengan handphone bebe onyx 2

Tuesday, October 02, 2012

Cara Mencegah dan menanggulangi Tawuran

Soal Tawuran yang lagi marak belakangan ini, istilahnya anak muda sekarang lagi menjadi trend, jelas-jelas menimbulkan keprihatinan yang mendalam.   Tawuran Pelajar yang minggu lalu memakan korban jiwa sampai 2 orang saudara - saudara, 2 orang bayangkan...apa itu wajar? itu sudah sangat keterlaluan sekali, 2 orang korbannya.   Sebagai warga negara Indonesia dan khususnya warga DKI yang sejak lahir sampai sudah memiliki anak 3 orang, Ibu sudah sering sekali menyaksikan tawuran, entah itu tawuran pelajar, tawuran warga atau tawuran mahasiwa, tidak cuma menyaksikan di Televisi tapi juga menyaksikan langsung bahkan sempat-sempatnya ikutan jadi korbannya. Pengalaman pertama adalah sewaktu Ibu masih berseragam putih abu-abu didalam Bus Arion, baru sebentar naik di Jalan I Gusti Ngurah Rai Klender...dimana disebelah rel kereta api sedang banyak batu kali dapat hujanan batu yang mana akhirnya jatuh korban, ibu-ibu ada yang lehernya kena pecahan kaca, ibu ma teman ibu segera tiarap dibawah bangku bus dan alhamdulillah selamat, kali ke-2 pas pulang kuliah di Bus yang sama didaerah yang sama, lemparan batu yang membabi buta kedalam bus yang Ibu naiki mengenai kaki...hasilnya wah sakit banget, sampai akhirnya benjol dan biru gitu, dan kalo mau diteruskan banyak lagi pengalaman ibu yang gak enaknya soal Tawuran, soal tawuran pelajar terakhir ibu posting bulan Juli lalu dengan judul lanjutan tawuran pelajar  dan  3 tahun lalu pernah posting juga dengan judul Save from Tawuran.

Sudah terbiasakah ibu dengan tawuran? Tentu saja tidak, yang jelas sebagai Ibu, ibu prihatin sekali, amat sangat prihatin dan jadi agak paranoid, waktu adik ibu  yang bungsu dan satu-satunya laki-laki   masuk SMA, ibu bilang ma orang tua ibu untuk keamanannya , dia setiap pulang sekolah harus  ganti baju dan celana, kalo pergi sekolah kan dia berangkatnya pagi-pagi, kalo pagi jarang ada tawuran pelajar, usul tidak disetujui oleh oarang tuanya ibu dan oleh yang bersangkutan...alhamdulillah masa 3 tahunnya di SMA (jalurnya  sekolahnya dia gak lewat klender tapi kalimalang) dilewati dengan mulus.

Akibat yang lain adalah, ibu langsung stress gitu kalo liat anak sekolahan bergerombol masuk ke bus oranye yang ibu tumpangin.....apalagi yang bergerombolan gak mau masuk kedalam,walah dah stress banget deh Ibu, kalo kemarin - kemarin tindakan preventif ibu adalah berdoa dan harap-harap  cemas semoga tidak terjadi apa-apa, atau langkah lain segera turun dan ganti kendaraan..atau sempat kepikiran juga buat nenteng-nenteng helm jadi kalo pas ada serbuan di bus ibu, tuh helm langsung dipake...hmm tapi dipikir-pikir itu bukan ide yang bagus dan agak merepotkan ya.

Jadi  apa yang harus kita lakukan supaya tawuran terutama tawaran pelajar/mahasiswa tidak marak?

Memberikan sanksi hukum yang tegas kepada siswa-siswa pembuat masalah dan pembuat onar, jadi jangan tunggu ada korban tewas baru diberikan sanksi, sebagai provokator pun mereka harus diberikan sanksi yang tegas, jangan dibedakan-bedakan sanksinya, pokoknya  harus tegas. titik.

Khusus sekolah-sekolah yang sering terlibat tawuran, seragam sekolahnya harus dibedakan,  warnanya diganti celana dengan warna ngejreng yang menyala, jadi begitu mereka bergerombol, masyarakat, aparat keamanan sudah  siap siaga untuk menghalau (kerbau kali ya dihalau) mereka. 

Pemerintah juga tidak bisa lepas tangan, sistem pendidikan kita salahnya dimana sehingga menghasilkan produk siswa-siswa yang hobinya tawuran, jadi pemerintah juga perlu memperbaiki sistem pendidikannya, mungkin bagian akhlak, budi pekerti dan keagamaan lebih diberikan porsi ketimbang menuntut siswa cerdas secara akademis.

Guru dan orangtua harus lebih berperan aktif, guru yang mendidik di sekolah,  misalnya sekolah lebih banyak lagi memberikan aktivitas dan kegiatan yang bermanfaat untuk siswanya, kasih pekerjaan rumah yang banyak,kasih kegiatan keagamaan lebih intensif, jadi mereka gak ada pikiran dan waktu buat tawuran, untuk orangtua dirumah, anak - anak harus dibekali dengan pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai semata, tapi juga pendidikan akhlak dan budi pekerti yang baik.

 Media juga harus menghindari meliput peristiwa tawuran secara berlebihan, karena bisa berefek menular dan latah, tidak cuma pelajar yang latah, kita sebagai masyarakat Indonesia cenderung suka meniru, latah dan ikut-ikutan akan trend yang ada, jangan sampai tawuran juga menjadi trend seperti halnya demam - demam lainnya. Semoga saja, tawuran bisa diberantas, kalau bisa sampai keakar-akarnya, amin.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:  Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran.

Kumpul Keluarga di Lembang sebelum ada Omicron

 Sekarang sudah normal lagi ya kayak biasanya, cerita tersisa tahun 2021 lalu. Bulan November 2021 pecah telor, akhirnya kumpul-kumpul  lagi...